Di tengah kawasan transmigrasi Desa Kertoraharjo, Kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, berdiri sebuah taman kanak-kanak yang sejak lama menjadi ruang perjumpaan lintas agama dan suku. Namanya Pratama Widyalaya TK Sri Ganesha Kertoraharjo. Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Batara Guru itu awalnya dikenal sebagai taman kanak-kanak bagi keluarga Hindu. Namun, seiring waktu, sekolah tersebut justru diminati masyarakat dari beragam latar belakang keyakinan. Pada tahun ajaran 2025, jumlah murid di TK Sri Ganesha tercatat 42 anak. Dari jumlah itu, lima murid beragama Kristen dan satu murid beragama Katolik. “Dari 42 murid, 5 di antaranya Kristen dan 1 Katolik, selebihnya Hindu,” kata Kepala TK Sri Ganesha, Iluh Sumardani. Di sekolah itu, identitas agama tampaknya bukan lagi faktor utama bagi orang tua saat memilih tempat belajar anak. Mereka lebih mempertimbangkan kedekatan guru dengan murid, suasana belajar, hingga pola pendidikan yang dianggap ramah bagi anak usia dini. Murid TK Sri Ganesha juga datang dari berbagai wilayah di Luwu Timur. Tidak hanya dari Desa Kertoraharjo, tetapi juga dari Kecamatan Mangkutana, Tomoni, Desa Pattengko, hingga Desa Purwosari. Sebagian orang tua rela menempuh jarak lebih jauh agar anak mereka dapat bersekolah di tempat itu. Suasana pembauran itu terlihat dalam acara penamatan dan malam pentas seni yang digelar Sabtu pekan lalu di Wantilan Pura Jagat Natha Kertoraharjo. Satu per satu nama murid dipanggil ke atas panggung untuk menerima medali dan rapor. Namun, nama-nama yang terdengar bukan semata nama khas Bali. Beberapa terdengar akrab sebagai nama dari etnis Toraja. Di antara deretan kursi penonton, para orang tua murid juga hadir dengan ragam busana dan corak budaya yang berbeda. Pemandangan itu memperlihatkan bagaimana ruang pendidikan anak usia dini di desa transmigrasi tersebut berkembang menjadi titik pertemuan masyarakat lintas identitas. TK Sri Ganesha sendiri berdiri sejak 11 Agustus 1999 berdasarkan Surat Keputusan Nomor 02/PHDI-DKR/VIII/1999. Sekolah swasta itu berada di Desa Kertoraharjo, Kecamatan Tomoni Timur. Sejak awal berdiri, TK Sri Ganesha disebut tidak pernah sepi peminat. Di tengah munculnya sejumlah sekolah baru, taman kanak-kanak itu tetap bertahan dan terus menerima murid dalam jumlah cukup banyak setiap tahun. Saat ini TK Sri Ganesha berada di bawah pembinaan Kementerian Agama Kabupaten Luwu Timur. Pengelola sekolah berharap pembinaan tersebut dapat semakin mendukung pengembangan pendidikan di sekolah itu. Di tengah perbedaan keyakinan dan latar budaya masyarakat, TK Sri Ganesha menjadi contoh kecil bagaimana pendidikan dapat tumbuh dalam suasana terbuka. Bagi sebagian orang tua, sekolah itu bukan lagi sekadar “TK Hindu”, melainkan tempat belajar yang dianggap nyaman bagi anak-anak mereka. (#) Related Posts:Pelukan Terakhir di Pratama Widyalaya Sri GaneshaSemangat Generasi Muda, Murid TK Ramaikan Pawai…Potret Toleransi Anak Usia Dini Tercermin pada…Menyulam Harapan TK Serathi Dharma : Mewujudkan…“Langkah Kecil Hari Ini, Jejak Besar di Masa Depan”…Pemuda Hindu di tengah perubahan sosial dan… Navigasi pos Camat Tomoni Timur Apresiasi Layanan Keliling Dukcapil, Warga Tak Perlu Lagi ke Malili