Melasti di Kertoraharjo, Ikhtiar Sunyi Menyucikan Diri Menjelang Nyepi
Oleh : Camat Tomoni Timur
Suasana pagi di Pura Puncak Sari, Desa Kertoraharjo, Kecamatan Tomoni Timur, Selasa (17/3/2026), terasa berbeda. Udara sejuk pegunungan menyatu dengan langkah-langkah warga yang datang dari berbagai penjuru desa. Mereka adalah umat Hindu dari Pura Jagat Natha dan Pura Dalem Penataran yang bersiap melaksanakan upacara Melasti, bagian penting dalam rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi.
Upacara yang dipimpin oleh Pinandita Mangku Made Santanu itu tidak terpusat di satu titik. Kondisi lokasi yang tidak sepenuhnya datar membuat prosesi berlangsung di beberapa area. Namun, keterbatasan ruang tidak mengurangi kekhidmatan. Warga tetap mengikuti rangkaian ritual dengan tertib, membawa perlengkapan upacara dan sesajen sebagai wujud bhakti.
Melasti merupakan ritual penyucian diri dan alam semesta dalam ajaran Hindu. Melalui prosesi ini, umat memohon pembersihan lahir dan batin, sekaligus menyelaraskan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Air menjadi elemen utama dalam ritual ini, dimaknai sebagai simbol pemurnian yang mampu meluruhkan segala kekotoran, baik secara sekala (nyata) maupun niskala (tidak kasatmata).
Bagi warga Kertoraharjo, Melasti bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi momentum refleksi menjelang Nyepi, hari ketika umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni tidak bekerja, tidak bepergian, tidak menyalakan api, dan tidak menikmati hiburan.
Dalam prosesi itu, tampak warga berjalan beriringan, sebagian membawa sesajen, sebagian lagi memusatkan diri dalam doa. Tidak ada suara yang dominan, kecuali lantunan doa yang mengalun pelan dan percikan air suci yang menjadi bagian dari ritual.
“Melasti ini untuk membersihkan diri, agar saat Nyepi kita benar-benar siap, baik lahir maupun batin,” ujar Wayan Darmayasa salah seorang warga di sela kegiatan.
Di tengah keterbatasan tempat yang tidak sepenuhnya rata, pelaksanaan Melasti justru menunjukkan kekuatan nilai kebersamaan. Warga saling menyesuaikan, berbagi ruang, dan tetap menjaga kekhusyukan.
Melalui Melasti, umat Hindu di Kertoraharjo tidak hanya menjalankan kewajiban spiritual, tetapi juga merawat harmoni dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan alam. Sebuah ikhtiar sunyi menuju heningnya Nyepi. (#)






