TOMONI  TIMUR, FAKJUR— Camat Tomoni Timur, Yulius, meminta agar tradisi pawai ogoh-ogoh terus dipertahankan sebagai wujud pelestarian budaya dan kearifan lokal. Pernyataan itu disampaikannya saat membuka secara resmi pawai ogoh-ogoh di Lapangan Batara Guru, Desa Kertoraharjo, Rabu (18/3/2026).

“Kegiatan ini juga menjadi wujud pelestarian budaya dan kearifan lokal yang harus dijaga bersama. Momentum ini sekaligus memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, serta toleransi antarumat beragama di Tomoni Timur,” tegas Yulius di hadapan ribuan umat Hindu yang hadir.
Ribuan warga dari Desa Kertoraharjo dan Margomulyo tumpah ruah mengikuti pawai ogoh-ogoh jelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1946. Tiga kelompok adat yakni Jagat Nata, Kayangan Tiga, dan Tirta Buana unjuk gigi menampilkan ogoh-ogoh terbaik mereka.
Sejak pukul 16.00 WITA, iring-iringan ogoh-ogoh mulai bergerak di jalan poros Margomulyo–Kertoraharjo. Antusiasme warga begitu tinggi, tak hanya umat Hindu, warga non-Hindu dan pengunjung dari luar wilayah juga memadati sepanjang jalur pawai hingga arus lalu lintas sempat tersendat.
Enam ogoh-ogoh berukuran raksasa berhasil menyita perhatian ribuan penonton. Diiringi tabuhan gamelan balaganjur yang menghentak dan tarian tradisional yang memukau, suasana magis langsung terasa. Sesampainya di Lapangan Batara Guru, setiap kelompok adat menampilkan atraksi ogoh-ogoh selama 15 menit yang sukses membuat penonton berdecak kagum.
Dalam kesempatan itu, Yulius yang hadir bersama Penyelenggara Urusan Hindu, Ketua PHDI Kabupaten, para kepala desa, dan panitia pelaksana juga menekankan nilai filosofis luhur dari tradisi ini untuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Pawai ogoh-ogoh berakhir sekitar pukul 19.30 WITA dengan pengembalian ogoh-ogoh ke pura masing-masing. (#)

By admin