ANGKONA, FAKJUR — Pemerintah Desa Tawakua, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur, menggelar Musyawarah Desa Rembug Stunting sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanganan stunting yang akan diintegrasikan dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Tahun 2027. Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Desa Tawakua, Senin (22/6/2026). Musyawarah tersebut dihadiri perwakilan Pemerintah Kecamatan Angkona, Puskesmas Angkona, Pemerintah Desa Tawakua, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Kantor Urusan Agama (KUA), pendamping desa, bidan desa, kader posyandu, kader Tribina, serta penyuluh keluarga berencana (PLKB). Camat Angkona yang diwakili Kasi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kecamatan Angkona, Agus Sasmianto, mengatakan bahwa upaya menekan angka stunting membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah desa dan masyarakat. “Pencegahan stunting tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Dibutuhkan sinergi seluruh elemen masyarakat agar tujuan menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas dapat tercapai,” kata Agus dalam sambutannya. Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan Rembug Stunting merupakan bagian dari kebijakan nasional yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai stunting sekaligus menyusun langkah-langkah penanganan yang dapat diakomodasi dalam perencanaan pembangunan desa. Menurut Agus, hasil musyawarah tersebut akan menjadi dasar penyusunan program dan penganggaran kegiatan pencegahan stunting dalam RKPDes Tahun 2027. “Rembug stunting harus dilaksanakan sebelum penyusunan RKPDes agar program-program yang disepakati dapat dimasukkan ke dalam perencanaan dan penganggaran desa tahun berikutnya,” ujarnya. Kepala Desa Tawakua, Paulus Leppong Saludung, menegaskan bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama. Ia menilai edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan, termasuk mengenai dampak pernikahan usia dini yang berpotensi meningkatkan risiko stunting. “Peran orang tua sangat penting dalam mengawasi dan membimbing anak-anak agar terhindar dari pernikahan dini. Pencegahan stunting harus dimulai sejak dini dan dilakukan secara bersama-sama,” katanya. Paulus berharap berbagai program yang dirumuskan dalam rembuk stunting dapat menekan angka kasus stunting di Desa Tawakua sehingga kualitas sumber daya manusia di masa depan semakin baik. Sementara itu, perwakilan Puskesmas Angkona, drg. Rihlah Vachinranti, mengatakan bahwa penanganan stunting memerlukan dukungan anggaran yang memadai karena berkaitan erat dengan pemenuhan gizi keluarga, kesehatan ibu dan anak, serta kondisi lingkungan yang sehat. “Stunting tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kesehatan, tetapi juga pola makan dan kondisi lingkungan. Karena itu diperlukan dukungan anggaran melalui Dana Desa agar program pencegahan dapat berjalan optimal,” ujarnya. Hal senada disampaikan perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Angkona. Menurutnya, salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan stunting adalah pernikahan usia dini. Karena itu, pihak KUA terus melakukan edukasi kepada calon pengantin dan masyarakat mengenai pentingnya kesiapan fisik, mental, dan ekonomi sebelum memasuki jenjang pernikahan. Melalui Rembug Stunting tersebut, Pemerintah Desa Tawakua berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat komitmen bersama dalam mencegah dan menangani stunting, sehingga terwujud generasi yang sehat, cerdas, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045. (Kas) Related Posts:Pemdes Taripa Gelar Rembug Stunting, Satukan Langkah…Desa Baruga Dicanangkan Jadi Desa Cantik, Dorong…Desa Cendana Hitam Timur Gelar Musyawarah Pembahasan…Mini Lokakarya Stunting, Wabup Lutim Dorong…Desa Cendana Hitam Timur Gelar Rembuk Stunting dan…Pemdes Kanawatu Gelar Musyawarah Desa, Bahas RKPDes 2026 Navigasi pos Bupati Irwan Tunjukkan Komitmen, Masyarakat Diajak Jujur dalam Sensus Ekonomi 2026 Bupati Irwan Serahkan SK Pensiun 14 ASN Purna Bhakti, 2 Diantaranya Kepala Dinas