Agustus 13, 2026

Ketika Keragaman Menjadi Modal Luwu Timur Menjaga Persatuan

WhatsApp-Image-2026-07-30-at-14.33.48

LUWU TIMUR,FAKJUR — Kerukunan tidak selalu diuji oleh perbedaan besar. Di tengah masyarakat yang beragam, persoalan kecil pun dapat berkembang menjadi konflik ketika komunikasi terputus dan informasi yang belum terverifikasi dipercaya begitu saja.

Kesadaran itulah yang menjadi salah satu perhatian Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Luwu Timur bersama para tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Peran Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dalam Mengawal Luwu Timur Juara (Maju dan Sejahtera)”.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Sasana Praja, Kantor Bupati Luwu Timur, Malili, Kamis (30/7/2026).

Bagi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, keberagaman yang ada di daerah itu bukan sekadar fakta demografis. Perbedaan suku, agama, budaya, dan latar belakang masyarakat dipandang sebagai modal sosial yang dapat memperkuat pembangunan apabila dirawat melalui komunikasi dan sikap saling menghargai.

Hal itu disampaikan Asisten Administrasi Umum, Askar, yang hadir mewakili Bupati Luwu Timur untuk membuka kegiatan tersebut.

Menurut Askar, masyarakat yang berbeda latar belakang justru memiliki kekuatan ketika mampu membangun gotong royong dan rasa persaudaraan.

“Justru dari keberagaman itulah lahir semangat gotong royong, saling menghargai, dan rasa persaudaraan yang menjadi fondasi pembangunan daerah,” kata Askar.

Namun, menjaga kerukunan tidak cukup dilakukan ketika konflik sudah terjadi. Menurut dia, diperlukan langkah antisipatif agar potensi gesekan sosial dapat dikenali sejak dini.

Karena itu, ia berharap FGD tidak berhenti sebagai forum bertukar pandangan. Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat toleransi, mempererat hubungan lintas agama, sekaligus membangun sistem deteksi dini terhadap potensi konflik sosial.

Tokoh Agama di Garis Depan

Di tengah derasnya arus informasi, Askar juga menempatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat sebagai bagian penting dalam menjaga ketenangan masyarakat.

Ia mengingatkan agar para tokoh tidak mudah terpengaruh maupun ikut menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.

“Sebagai tokoh, kita harus menjadi teladan dalam menjaga persatuan. Mari utamakan musyawarah, dialog, dan semangat persaudaraan dalam menyelesaikan setiap persoalan,” ujarnya.

Menurut Askar, hubungan antarumat beragama juga perlu dibangun melalui interaksi sosial yang nyata. Saling mengunjungi, membantu dalam kegiatan kemasyarakatan, dan membuka ruang komunikasi menjadi cara sederhana untuk memperkuat rasa saling percaya.

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, kata dia, akan terus mendukung berbagai upaya yang dapat menjaga stabilitas, keamanan, dan kerukunan masyarakat.

Ketua FKUB Kabupaten Luwu Timur, Ardias Barah, mengatakan FGD tersebut merupakan bagian dari program kerja FKUB yang dirancang dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Forum tersebut tidak hanya diikuti organisasi keagamaan, tetapi juga melibatkan MUI, Forum Kerja Sama Gereja Luwu Timur, PHDI, Forum Masyarakat Katolik, Muhammadiyah, NU, LDII, Polres Luwu Timur, kepala desa, KUA, hingga organisasi kepemudaan.

“Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja FKUB Luwu Timur bersama ketua-ketua organisasi kemasyarakatan keagamaan. Kami berharap seluruh unsur dapat bersinergi membantu pemerintah dalam merawat kerukunan umat beragama,” kata Ardias.

Keterlibatan banyak unsur tersebut menunjukkan bahwa menjaga kerukunan bukan pekerjaan satu lembaga. Pemerintah membutuhkan peran tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat keamanan, pemerintah desa, organisasi keagamaan, hingga generasi muda.

Pada akhirnya, kerukunan bukan hanya soal tidak adanya konflik. Ia juga menyangkut kemampuan masyarakat untuk tetap bekerja sama meski berbeda keyakinan, latar belakang, maupun pandangan.

Di situlah keberagaman Luwu Timur dapat menjadi kekuatan bukan sumber perpecahan untuk menopang cita-cita mewujudkan daerah yang maju dan sejahtera.