Seorang siswa menyerahkan segelas Thai Tea. Siswa lain menerima uang pembayaran, menghitung kembalian, lalu mencatat transaksi. Di sisi lain, beberapa temannya sibuk meracik minuman, mencuci gelas dan merapikan meja.

Jam istirahat belum selesai. Tetapi bagi mereka, pelajaran sudah dimulai.

Tidak ada papan tulis. Tidak ada buku paket. Yang ada hanya meja pelayanan, uang tunai, daftar menu dan pembeli yang datang silih berganti.

Di Kantin Kita Spensa Tomoni Timur, aktivitas sederhana itu menjadi bagian dari pembelajaran kewirausahaan. Sejak hadir pada 2019, kantin SMPN 1 Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, tidak hanya berfungsi sebagai tempat siswa membeli makanan dan minuman.

Ia menjadi ruang belajar.

Di sana siswa belajar melayani pelanggan, membagi pekerjaan, mencatat pemasukan, menghitung hasil penjualan, menjaga kebersihan, bekerja sama dan—yang paling penting—memegang kepercayaan.

Kantin itu mungkin kecil. Tetapi pelajaran yang berlangsung di dalamnya jauh lebih besar daripada ukuran ruangnya.

Dari Pembeli Menjadi Pengelola

Kantin sekolah biasanya menempatkan siswa sebagai konsumen. Datang, membeli, membayar, kemudian pergi.

Kanting Kita menawarkan pengalaman yang berbeda.

Siswa diberi kesempatan ikut terlibat dalam pengelolaan usaha dengan pendampingan sekolah. Mereka bergantian menjalankan berbagai tugas. Ada yang melayani pembeli, menyiapkan bahan, meracik minuman, mencuci peralatan, mencatat transaksi hingga menghitung hasil penjualan.

Menu yang ditawarkan pun cukup beragam. Ada Thai Tea, es jeruk peras, Mojitoz, es kopi susu dan Jasuke—jagung, susu dan keju.

Produk-produk itu bukan sekadar daftar menu.

Di baliknya ada proses belajar tentang bagaimana sebuah usaha bekerja.

Kepala SMPN 1 Tomoni Timur, Arief, mengatakan Kantin Kita memang diarahkan menjadi ruang praktik untuk menanamkan nilai kerja sama, tanggung jawab dan kejujuran.

“Di Kantin Kita mereka diajarkan tentang kerja sama, tanggung jawab dan kejujuran,” kata Arief, Senin, 14 Agustus 2026.

Setiap transaksi harus dapat dipertanggungjawabkan. Hasil penjualan dicatat secara rinci. Pembagian tugas dilakukan agar kegiatan berjalan tertib.

Siswa belajar bahwa uang yang masuk bukan sekadar angka. Ia harus dihitung, dicatat dan dipertanggungjawabkan.

Ekonomi dalam Gelas dan Piring

Pelajaran ekonomi biasanya berbicara tentang modal, harga, penjualan, laba dan rugi.

Di Kantin Kita, konsep-konsep itu hadir dalam bentuk yang lebih sederhana.

Ketika bahan baku dibeli, siswa mengenal modal. Ketika produk dijual, mereka mengenal pendapatan. Ketika hasil penjualan dikurangi biaya, mereka mulai memahami keuntungan.

Matematika yang sebelumnya hadir dalam buku pelajaran menjadi lebih nyata.

Berapa modal yang dibutuhkan ? Berapa harga jual yang tepat? Berapa produk harus terjual agar modal kembali ? Produk mana yang paling diminati?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus dijawab dalam ujian.

Jawabannya terlihat dari aktivitas kantin setiap hari.

Kerja Sama Tanpa Banyak Komando

Menariknya, pembagian pekerjaan di Kantin Kita tidak selalu membutuhkan instruksi panjang.

Siswa sudah memahami apa yang harus dilakukan.

Ada yang mencuci piring dan gelas. Ada yang meracik minuman. Ada yang melayani pelanggan. Ada yang mencatat transaksi.

Mereka bekerja sebagai sebuah tim.

Seorang siswi yang terlibat dalam pengelolaan Kantin Kita mengatakan kegiatan tersebut dilakukan dengan nyaman.

“Kami enjoy melakukan semua tugas-tugas ini tanpa merasa ada tekanan, apalagi yang namanya eksploitasi dari guru atau pengelola,” ujarnya.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa pembelajaran tidak selalu membutuhkan ruang kelas.

Kadang-kadang, keterampilan bekerja sama justru lebih mudah dipahami ketika siswa berhadapan dengan pekerjaan yang nyata.

Soal Rasa, Kebersihan Ikut Bicara

Soal rasa, menu Kantin Kita boleh diadu.

Namun ada satu hal lain yang tidak kalah penting: kebersihan.

Meja dan area pelayanan dijaga tetap bersih. Hampir tidak terlihat lalat hinggap di meja ataupun makanan. Siswa belajar bahwa menjual makanan bukan hanya soal membuat produk yang enak.

Ada standar kebersihan yang harus dijaga.

Ada pelanggan yang harus dibuat nyaman.

Ada kepercayaan yang harus dipertahankan.

Dengan demikian, pelayanan menjadi bagian dari proses belajar.

Keuntungan yang Kembali ke Siswa

Kantinnya menghasilkan keuntungan. Namun manfaatnya tidak berhenti di kas usaha.

Hasil penjualan turut mendukung kegiatan siswa, termasuk kegiatan OSIS SMPN 1 Tomoni Timur. Manfaat itu telah dirasakan sejak Kantin Kita berdiri hingga sekarang.

Bagi siswa, hubungan antara usaha dan manfaat menjadi terlihat secara langsung.

Mereka bekerja. Produk terjual. Hasil diperoleh. Sebagian keuntungan kembali digunakan untuk kegiatan mereka.

Ini menjadi pelajaran ekonomi yang sederhana tetapi penting: uang akan lebih berarti ketika dikelola dan digunakan secara bertanggung jawab.

Sekolah Menjadi Pasar Kecil

Kantinnya juga dapat menjadi ruang untuk menguji kreativitas siswa.

Produk kuliner maupun kerajinan hasil karya siswa dapat dipasarkan kepada warga sekolah melalui sistem titip jual atau konsinyasi.

Sekolah pun berubah menjadi pasar kecil.

Di sana siswa dapat mengetahui apakah sebuah produk disukai konsumen. Mereka belajar mengevaluasi rasa, kemasan, harga hingga cara pelayanan.

Jika produk tidak laku, mereka belajar mencari penyebabnya.

Jika laku, mereka belajar mempertahankan kualitas.

Dengan cara itu, kewirausahaan tidak berhenti pada teori.

Bukan Sekadar Mengejar Keuntungan

Kantinnya juga dapat dikaitkan dengan nilai-nilai Adiwiyata.

Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penggunaan wadah yang dapat digunakan kembali serta kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan menjadi bagian penting dari pengelolaan kantin.

Siswa belajar bahwa sebuah usaha tidak hanya berbicara tentang keuntungan.

Ada tanggung jawab terhadap lingkungan.

Ada tanggung jawab terhadap konsumen.

Dan ada tanggung jawab terhadap orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Camat : Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Usaha

Keberadaan Kantin Kita mendapat apresiasi dari Camat Tomoni Timur, Yulianus, S.Sos., M.A.P.

Menurut dia, pengalaman mengelola usaha sejak bangku sekolah dapat menjadi bekal bagi siswa yang kelak memilih dunia kewirausahaan.

“Kantin Kita ini menjadi laboratorium bagi siswa untuk belajar berwirausaha sejak dini. Nantinya, bagi siswa yang ingin terjun di bidang wirausaha, mereka sudah memiliki modal ilmu dan pengalaman,” kata Yulianus.

Menurut dia, manfaat Kantin Kita bukan hanya pengalaman bagi siswa. Aktivitas usaha tersebut juga memberi dukungan terhadap pembiayaan kegiatan siswa, termasuk OSIS.

“Sebagai pimpinan wilayah, saya mengapresiasi dan mendukung keberadaan Kantin Kita ini di SMPN 1 Tomoni Timur,” ujarnya.

Bagi Yulianus, pengalaman seperti itu penting karena dunia usaha tidak cukup dipelajari melalui teori.

Siswa perlu merasakan bagaimana melayani pelanggan, mengelola uang, membagi pekerjaan dan menjaga kepercayaan.

Lebih dari Sekadar Kantin

Pada akhirnya, Kantin Kita Spensa Tomoni Timur bukan hanya tempat untuk mengisi perut ketika jam istirahat.

Ia adalah ruang kecil tempat siswa mengenal dunia yang lebih besar.

Di balik segelas Thai Tea, ada latihan menghitung uang.

Di balik pesanan yang dilayani, ada pelajaran tentang pelayanan.

Di balik pembagian tugas, ada latihan kerja sama.

Di balik catatan penjualan, ada pembelajaran tentang pengelolaan usaha.

Dan di balik setiap transaksi, ada kejujuran yang harus dijaga.

Kantin itu mungkin tidak memiliki papan nama sebagai “laboratorium kewirausahaan”. Tetapi aktivitas di dalamnya telah menjalankan fungsi tersebut.

Sebuah kantin sekolah yang mengajarkan bahwa menjadi wirausahawan bukan hanya soal bagaimana memperoleh keuntungan.

Tetapi juga bagaimana bekerja, melayani, bertanggung jawab dan menjaga kepercayaan. (red_

 

By admin