TOMONI TIMUR,FAKJUR  — Pembangunan desa di Kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur, menunjukkan perkembangan positif sepanjang 2025–2026. Berdasarkan hasil pengukuran Indeks Desa, rata-rata indeks delapan desa di wilayah tersebut meningkat dari 78,54 pada 2025 menjadi 80,06 pada 2026.

Peningkatan tersebut memperlihatkan adanya penguatan capaian pembangunan desa secara agregat. Rata-rata skor desa juga naik dari 498,75 menjadi 508,38, atau bertambah 9,63 poin.

Perubahan paling signifikan terlihat pada status kemandirian desa. Pada 2025, terdapat dua desa berstatus Mandiri dan enam desa berstatus Maju. Setahun kemudian, jumlah desa Mandiri bertambah menjadi empat desa, sementara desa berstatus Maju berkurang menjadi empat desa.

Dua desa yang berhasil meningkatkan statusnya dari Maju menjadi Mandiri adalah Desa Margomulyo dan Desa Pattengko.

Capaian tersebut menjadi indikator bahwa penguatan kapasitas dan pembangunan desa di Tomoni Timur mulai memberikan hasil yang terukur.

Dari delapan desa, Margomulyo mencatat peningkatan skor terbesar. Skornya naik dari 496 pada 2025 menjadi 516 pada 2026 atau bertambah 20 poin.

Kenaikan tersebut mendorong indeks Desa Margomulyo dari 78,11 menjadi 81,26 sekaligus mengubah statusnya dari Maju menjadi Mandiri.

Sementara itu, Cendana Hitam Timur mencatat kenaikan skor terbesar kedua, yakni 17 poin, dari 465 menjadi 482. Indeksnya meningkat dari 73,23 menjadi 75,91.

Desa lainnya juga menunjukkan pertumbuhan. Manunggal meningkat 11 poin, Pattengko 9 poin, Purwosari dan Kertoraharjo masing-masing 6 poin, Alam Buana 5 poin, serta Cendana Hitam 3 poin.

Pada pengukuran 2026, Desa Kertoraharjo masih menempati posisi pertama dengan skor 552 dan indeks 86,93. Desa ini mempertahankan status Mandiri yang telah diraih sebelumnya.

Posisi berikutnya ditempati Cendana Hitam dengan indeks 82,05, Margomulyo 81,26, dan Pattengko 80,47. Keempat desa tersebut telah berada dalam kategori Mandiri.

Sementara empat desa lainnya masih berada pada kategori Maju, yakni Purwosari dengan indeks 79,53, Alam Buana 77,95, Manunggal 76,38, dan Cendana Hitam Timur 75,91.

Purwosari menjadi desa yang paling dekat dengan status Mandiri karena hanya membutuhkan peningkatan sekitar 0,47 poin indeks untuk melewati angka 80.

Peningkatan Indeks Desa di Tomoni Timur tidak terjadi secara seragam pada seluruh dimensi.

Data menunjukkan, DTPD menjadi dimensi dengan kenaikan rata-rata tertinggi, yakni 4,88 poin. Selanjutnya, dimensi DS meningkat 4,13 poin dan DLD naik 3,50 poin.

Di sisi lain, terdapat dua dimensi yang mengalami penurunan. Dimensi DE turun 2,50 poin, sedangkan DA turun 0,50 poin.

Kondisi tersebut menjadi catatan penting dalam penyusunan arah pembangunan desa berikutnya. Penguatan capaian yang sudah positif perlu dipertahankan, sementara dimensi yang mengalami penurunan perlu mendapatkan perhatian melalui intervensi yang lebih terarah.

Dengan empat dari delapan desa telah berstatus Mandiri, tantangan pembangunan Tomoni Timur selanjutnya adalah memperkuat pemerataan capaian antardesa.

Kecamatan Tomoni Timur dapat mengarahkan strategi pembangunan secara berbeda sesuai karakteristik dan posisi masing-masing desa.

Purwosari memiliki peluang besar untuk segera menyusul kelompok Mandiri. Sementara Alam Buana dan Manunggal membutuhkan akselerasi peningkatan indikator. Cendana Hitam Timur yang mencatat kenaikan 17 poin juga perlu menjaga momentum agar tren positif tersebut berkelanjutan.

Di sisi lain, praktik baik dari Margomulyo dan Pattengko dapat menjadi pembelajaran bagi desa lain, terutama dalam mengidentifikasi indikator pembangunan yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan status desa.

Capaian Indeks Desa 2026 memberikan gambaran bahwa pembangunan desa di Tomoni Timur tidak hanya mengalami peningkatan secara angka, tetapi juga menunjukkan perubahan struktur status desa.

Dalam dua tahun, jumlah desa Mandiri meningkat dua kali lipat, dari dua menjadi empat desa.

Dengan mempertahankan tren tersebut, Kecamatan Tomoni Timur memiliki peluang untuk menargetkan minimal lima hingga enam desa berstatus Mandiri pada 2027.

Peningkatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong desa agar semakin kuat dalam tata kelola, pelayanan, pembangunan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan potensi lokal.

Dengan demikian, keberhasilan pembangunan desa tidak semata diukur dari peningkatan skor indeks, tetapi juga dari kemampuan desa memperluas manfaat pembangunan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan. (#)

 

By admin